18 Februari 2009

Wajah Kurukulum Sekolah Menengah Kejuruan

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang oleh departemen Pendidikan Nasional diproyeksikan menjadi primadona SLTA dengan jumlah yang lebih banyak dibanding SMA memiliki tantangan yang cukup berat. Tantangan yang ada adalah amanat yang harus diemban dan peraturan peraturan yang membebani kurikulum SMK.
SMK memiliki 2 (dua) otoritas yang mewarnai kurikulum yang dipakai : beban dari BSNP (Badan Standarisasi Nasional Pendidikan) dan BNSP (Badan Nasional Standarisasi Profesi). Masing masing badan dimaksud memiliki standar sendiri sendiri yang apabila dibebankan pada siswa SMK cukup merepotkan. Di satu sisi BSNP mengharapkan siswa SMK menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang setara dengan kemampuan anak SMA dengan berbagai sisi kemampuannya, sementara BNSP mengharapkan siswa SMK menjadi manusia siap kerja sesuai standar industri.
Beban Siswa SMK :
Dengan adanya perubahan kurikulum pasca dikeluarkannya UU Sisdiknas, banyak keluhan dari dunia usaha/dunia industri perihal ketrampilan siswa SMK yang menurun. Hal yang patut dipikirkan semua pihak adalah : apa penyebabnya ?
Siapapun yang membuat aturan untuk perubahan kurikulum bermaksud baik, yang tidak baik adalah bahwa kita kadang tidak memikirkan siapa yang menjadi objek aturan tersebut.
Kaji ulang beban siswa SMK. Idealisme menurut kacamata kita belum tentu ideal diterapkan kepada orang lain. Jangan sampai siswa SMK berdiri diatas dua sisi papan seluncur yang arahnya berbeda : terjerembab, jatuh, tidak sampai tujuan, sakit, disalahkan.

0 komentar:

Poskan Komentar